Dari Filem, Plagiarisme Hingga Riset (Film-1)

Sambil mengerjakan tugas-tugas (kuliah, kerjaan dan sampingan) yang sepertinya ga ada habis-habisnya itu, di sebelah saya suami sedang menonton film berjudul CRACKS, dibintangi Eva Green salah satu pendamping James Bond. Filemnya sih bukan jenis box office saya pikir. Judulnya aja baru denger.

Anyway, kisahnya tentang sebuah sekolah khusus perempuan di Inggris (jadi inget serial asrama-nya Enid Blyton). Di sekolah Katolik ini ada seorang guru Diving yang amat disukai murid-muridnya, karena selain muda dan cerdas, ia sering sekali bercerita tentang dunia di luar sana. Maklum rata-rata gadis sederhana yang terkungkung tradisi jaman baheula (setting sekitar tahun 1970-an saya perkirakan), mereka terkagum-kagum dongeng-dongeng dari si guru geulis ini. Si guru memang mengesankan sebagai orang yang amat sangat gaul karena sering bepergian ke negara-negara lain.

Sampai akhirnya suatu hari sekolah kedatangan seorang murid baru. Berbeda dengan yang lain, ia anak orang kaya dan sering bepergian ke berbagai belahan dunia. Si murid baru inilah yang akhirnya membongkar ‘kedok’ si guru bahwa ternyata belum pernah mengunjungi satupun negara yang pernah ia ceritakan. Bahkan dongeng-dongeng yang ia sampaikan di kelas ternyata adalah penggalan-penggalan kata dari novel-novel. Pada akhirnya, si guru kehilangan muka di hadapan para murid yang awalnya mendewakan dirinya.

Ide ceritanya sih sederhana, tapi justru dengan kesederhanaan jadi mengena.

Saya pikir itu guru kurang kreatif. Coba kalo pas nyeritain dari novel teh pake kata-katanya sendiri? Pasti teu bakal pati kanyahoan.

Dalam dunia penulisan, mungkin itulah yang disebut salah satu tindakan plagiarisme. Suatu tindakan mencomot ide, teori maupun kata-kata dari orang lain dan mengatasnamakannya sebagai karya sendiri. Bahaya banget tuh, apalagi sekarang satu demi satu tindakan plagiarisme berhasil terkuak.

Karena saat ini setiap minggu saya dituntut untuk dapat menulis sebuah karya (ilmiah dan non-ilmiah) untuk dua maksud yang berbeda, setiap hari saya harus amat sangat berhati-hati membaca buku dan melakukan riset dan menuangkan gagasan tanpa melakukan apa yang saya sebutkan di atas. Dan harus diakui bahwa itu tidak gampang. Mengapa? karena terkadang saking banyaknya kita membaca sehingga seolah-olah kata-kata si penulis asli asa sudah jadi bagian dari diri kita. Therefore, ketika kita menuliskannya, kita kadang lupa bahwa itu bukan kata-kata kita.

Salah satu cara untuk menghindari hal tersebut adalah dengan melakukan teknik paraphrase. Parafrase atau menyadur adalah sebuah upaya untuk mengatakan sesuatu berdasarkan ide orang lain namun dengan memakai kata-kata sendiri. Contoh, ketika ada teori (misalnya)

“Perbedaan besar antara laki-laki dan perempuan dalam menggunakan otak mereka adalah; perempuan memenuhi otaknya dengan banyak sekali hal yang saling berkaitan, sementara laki-laki memakai ‘kotak-kotak’ untuk membedakan setiap pikiran mereka, dan masih memiliki sesuatu yang disebut empty box, dimana disitulah mereka tidak memikirkan apa-apa …”

Nah, jika ingin memakai teori tersebut, setidaknya ada dua hal yang bisa kita lakukan:
Pertama, kutiplah seluruh kalimatnya, cetak dengan huruf yang lebih kecil dan spasi lebih rapat (kadang ada yang juga pake tanda petik), kemudian cantumkan nama pengarang, tahun dan dari halaman berapa tulisan itu dikutip.
misalnya ” ….” (Irsyadi, 2010 :89)

Kedua, gunakan teknik parafrase (namun tetap pengarang disebutkan).
misalnya;
Ketika laki-laki mampu memisahkan pikiran satu dengan yang lain, dan juga mampu mengosongkan pikirannya; maka perempuan tetap tidak mampu membuatnya pikirannya sepi karena mereka cenderung lebih rajin memenuhi otak dengan berbagai pikiran yang saling berkaitan (Irsyadi, 2010:89)

Bagaimana kalau bahasa lisan? Ya disebutkan saja.
“Di buku primbon terlengkap tahun 2010, saya baca bahwa …”

Kembali ke cerita filem di atas, lagi-lagi saya ditubrukkan dengan sengaja ke dalam fakta bahwa; Ya, jika orang banyak membaca, pasti ia banyak bercerita. Mengapa? karena referensinya sudah banyak. Bukankah setiap kata yang kita keluarkan itu berdasarkan pengalaman dan pengetahuan kita??
Coba kalau anak saya (3,5 tahun) disuruh bercerita; pasti dia akan seperti ini,

“Di cekolah ade teh ada temen-temen … cama bu gulu. Temen-temen alus suka makan cayur …”

Mengapa ia bercerita demikian? Karena ia baru saja bersekolah di Playgroup, baru mengenal konsep ‘teman-teman dan bu guru’ serta buku favoritnya berjudul AKU SUKA MAKAN SAYUR.

Begitu pula dengan menulis. Orang yang pandai menulis pasti juga banyak membaca. Saya juga sering merasakan betapa dahsyatnya pengetahuan si penulis hanya dari tulisannya saja. Apalagi jika si penulis termasuk yang risetnya oke, waaah serasa ‘hidup’ sekali cerita yang ia sampaikan.

Para penulis luar termasuk yang saya kagumi karena mereka menulis full riset. Semua data yang ada meski dicampur dengan fiksi namun berdasar pada fakta. Sampai-sampai banyak terdengar para penulis yang sampai mengasingkan diri supaya bisa anteng mengerjakan riset untuk tulisannya.

Inilah yang sangat sering dilupakan oleh para penulis kita (termasuk saya sendiri sebagai penulis amatiran yang seringnya menulis hal-hal ga penting). Terkadang saya suka susah menangkap ‘feel’ dari sebuah tulisan karena mungkin ia mengawang-awang atau seringkali ga pas dengan kenyataan. Contohnya, jika mau setting cerita di Bandung dan tokohnya orang Sunda, ya dibuatlah seperti adanya, jangan sampai berasa jadi orang Sunda jajadian yang baru datang ke Bandung setelah lama transmigrasi di Kalimantan.

Yah, demikianlah sodara-sodara; saya juga mengerti bahwa menulis itu tidak gampang. Dalam bahasa Inggris aja kata “text” (sebagai materi tulisan) jika ditelusuri maknanya ia berarti “to weave” yang artinya menenun. Hakikatnya, menulis memang seperti menenun, yaitu menjalinkan rangkaian kata-kata sehingga ia menjadi satu kesatuan yang utuh dan indah dipandang .. dibaca maksudnya mah.

Hayu atuh mulai sekarang mah belajar lebih keras lagi baik sebagai pendongeng, pembaca maupun penulis.

*Tulisan ini dibuat atas unsur kesengajaan, namun jika ada kemiripan dengan kisah nyata, Insya Allah itu cuma kebetulan. Interpretasi apapun diperbolehkan namun semua efek samping bukan tanggungjawab saya*

About moviebooks

it's all about my world; books, movies, and languages ... come and surf with me
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s