Disconnect … while you still can …

Jarang sekali sebenarnya saya menonton film yang ujung-ujungnya membuat sesak nafas. Disconnect (2012) adalah salah satunya. Disajikan dengan agak murung (dan semakin murung) dari awal hingga akhir, membuat saya agak sakit kepala karena jalan cerita yang terjalin dengan natural namun sedih.

Film dibuka dengan adegan seorang pemuda belia yang tiba-tiba masuk ke sebuah rumah, di dalamnya banyak sekali muda mudi (hampir) tak berpakaian. Tadinya saya pikir itu rumah bordil, namun ternyata si pemuda berprofesi sebagai penyedia jasa layanan sex video call (aduuh apa atuh yaa istilahnya) pokoknya dia tergabung dalam website yang isinya memang menyediakan jasa sex (tanpa melakukan penetrasi >_<) mulai dari memerlihatkan anggota tubuh, menari, hingga (maaf) bermasturbasi.

Baru 10 menit saja saya sudah harus menarik nafas beberapa kali.

Di tempat lainnya, saya diajak menemui sepasang suami istri. Mereka tidak bahagia. Jelas-jelas tidak bahagia. Sang suami menyibukkan diri dengan pekerjaannya dan sesekali bermain judi di internet. Sang istri berkarya lewat seni dan sibuk berchatting ria dengan teman virtualnya, karena tak pernah bisa ngobrol dengan suaminya sendiri. Apa yang terjadi? Kematian putra mereka yang masih bayi lah yang menyebabkan semuanya.

Kemudian, film ini pun bercerita mengenai dua remaja putra. Yang pertama hidup berdua dengan ayahnya yang mantan polisi dan merasa ayahnya terlalu otoriter, ia merindukan mendiang ibunya. Remaja kedua putra seorang pengacara sukses yang memiliki semuanya, rumah mewah lengkap dengan kolam renang, mobil mentereng. Namun sang remaja mengurung diri di kamar, ditemani musik metal kesukaannya, selalu memakai hoodie dan topi kupluk di sekolah, karena ia amat sangat tidak pede. Ayahnya, si pengacara top itu, tak lebih dari seseorang yang mampir setiap malam untuk ikut bersantap di meja makan.

Semua kisah ini dengan latar belakang yang berlainan, diperkenalkan satu demi satu, untuk kemudian diperjalinkan dengan rapi dan (lagi-lagi) kelam. Alur yang agak lambat dan kisah hidup dramatis manusia memaksa penonton untuk tidak membuat judgement. Tidak ada yang benar atau salah. Yang ada hanyalah kehidupan saja.

Hanya di film ini, rasanya, saya melihat Jason Bateman tidak cengar-cengir seperti biasanya di genre rom-com. Berperan sebagai pengacara kaya yang akhirnya menyesal telah menelantarkan keluarga, aktingnya sukses bikin saya depresi. Max Thieriot si “pelacur” remaja juga mencuri perhatian dari awal. Tak pernah menyangka si anak kurus di The Pacifier dan kemudian bermain agak lumayan di The House at The End of The Street bisa bertransformasi menjadi aktor dewasa dengan prospek menjanjikan.

Over all, film ini memang tidak akan membuat Anda terhibur. Beware, mungkin Anda malah akan jadi depresi. Namun, Anda akan dibuat “ngeh” dengan realita. Betapa sesuatu yang tak pernah Anda bayangkan, ternyata ada, hidup dan menjelma di hadapan Anda. This is life. Face it.

Advertisements

About moviebooks

it's all about my world; books, movies, and languages ... come and surf with me
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s