ME AND THE THINGS CALLED BOOKS (Buku-1)

Seingat saya, jauh sebelum masuk sekolah dasar saya sudah suka baca. Mungkin terbentuk karena di rumah kakek selalu tersedia koran harian dan rasanya orang sibuk membaca adalah pemandangan yang sangat biasa bagi saya. Semua paman-paman saya suka membaca (dan mengisi TTS). Meski yang mereka baca hanyalah koran lokal  tapi kebiasaan ini agaknya menulari semua orang. Sebelum bisa membaca tentu saja saya ‘membaca’ buku dengan gaya saya sendiri, yaitu ngacapruk ngalor-ngidul membayangkan cerita yang hanya ada dalam pikiran saya dan mengisi TTS punya paman saya dengan huruf A semua (sering dimarahi nih gara-gara ini).

Ketika huruf-huruf mulai akrab dengan saya (1 SD mungkin ya) saya sudah berkawan akrab dengan karya-karya Enid Blyton. Lima Sekawan, Pasukan Mau Tahu, Serial Si Badung, Mallory Towers, St Claire semuanya. Saya paling suka  membaca sambil makan (sampai sekarang) dan akhirnya buang air besar juga sambil baca (juga sampai sekarang). Mohon maaf nih bagi yang geuleuhan.

Dan percayalah kawan, ketika kehausan membaca sudah di urat nadimu, apapun akan kau jadikan media membaca. Makanya saya suka banget (sampai sekarang) membaca apapun yang bisa saya baca di potongan koran pembungkus cengek, tanda jalan, iklan yang dipakukan ke pohon dan lain-lain. Suruh saja saya baca, kecepatan baca saya cepat sekali teman, tapi ketika ditanya apa isimya, kalian musti sabar ya, soalnya loading saya suka lama. Hehehe.

Bahayanya dengan ‘nafsu’ saya yang besar terhadap baca adalah; saya membaca apapun. Kalau saya bilang begitu, ya berarti apapun (silakan interpretasikan sendiri). Kelas 2 SD saya sudah khatam 2 kitab Mahabarata dan Baratayuda, karangan Kosasih. Saya mengikuti kisah Wiro Sableng Si Kapak Naga Geni 212 dari SD hingga bosan di SMA. Sampai kakek sendiri pernah berkomentar, andaikan saya mau, mungkin Qur’an sudah ratusan kali khatam. Ampun Gusti …

Saya secara rutin mulai mengoleksi buku, yang sayangnya tidak bersisa hingga hari ini (maksudnya koleksi dari kecil). Buku-buku seperti Lupus-nya Hilman adalah yang paling saya sesali, karena sekarang susah lagi nyarinya. Juga komik Candy-Candy dan Conan edisi awal. Menginjak SMP, lagi musim-musimnya serial Goosebumps, yang bikin merinding tea. Saya suka banget sama R.L Stine si penulis cerita horor ini, meski kedudukannya masih kalah dari Stephen King, yang bagi saya kereen banget.

Jangan salah, saya juga baca fiksi Indonesia. Dulu saya sempat baca Senopati Pamungkas-nya Arswendo Atmowiloto (yang juga saya kagumi karena gaya penulisannya) meski tidak sampai tamat. Sekarang saya pengen banget memiliki buku yang tebalnya sama dengan 3 bantal disatukan itu, tapi harganya mahal sekali. Duh, harga buku memang selalu jadi musuh berat para bookaholic macam saya.

Di SMA, saya bertemu dengan keajaiban yang bernama Taman Bacaan. Sebelumnya, kalau tidak maksa beli atau pinjam teman saya tidak akan pernah punya kesempatan membaca buku yang saya inginkan, tau sendiri perpustakaan di negara ini mana ada yang bisa mengakomodasi kebutuhan baca secara lengkap (eh saya terlalu mengeneralisir, maksudnya perpustakaan yang saya tahu, ga semuanya berarti).

Si taman bacaan itu dikelola oleh seorang bapak baik hati, yang hingga hari ini setelah lebih dari 15 tahun masih berteman baik dengan saya. Setiap punya uang saya pasti mengunjungi si Bapak dan memborong setumpuk besar buku yang akan saya pinjam untuk jangka waktu 2-3 minggu. Setiap ada buku baru yang saya lihat iklannya di majalah atau koran, pasti saya beritahukan padanya, dan tak lama si Bapak akan membelikannya dan saya akan meminjamnya.

Saya memang lebih banyak baca fiksi, bacaan yang menurut sebagian orang useless. Bagi saya tidak, fiksi seringkali mengajarkan banyak hal; nilai kehidupan, sosial dan tetek bengek yang boleh jadi membentuk pola pikir orang. Paling tidak, fiksi melatih kemampuan baca saya dan memberitahu saya bagaimana kualifikasi menjadi agen rahasia dan lokasi markas CIA di langley, Virginia hehe (ini saya dapat dari Sidney Sheldon).

Anyway, hingga sekarang saya masih membaca dan akan terus membaca. Di samping kemampuan baca, kebiasaan ini juga membuat saya memiliki daya ingat yang cukup bagus, paling tidak untuk bisa bekerja dan belajar tiap hari. Saya bisa sakaw kalau sehari saja tidak baca, sedang berusaha terus juga untuk membaca buku-buku lain (agama misalnya) dan juga baca Qur’an. Amin.

Dan semoga menulis saya juga bisa terus lebih baik.

Mohon bantuannya. (menangkupkan tangan di depan kening ala para shaolin)

salam.

Advertisements
Posted in Uncategorized | Leave a comment

MARI MEMIKIRKAN SEBUAH NAMA (Bahasa-1)

Suatu hari di pertengahan tahun 2001, saya dan suami mengunjungi seorang kerabat yang istrinya baru melahirkan anak pertama mereka. Setelah berbasa-basi sana-sini, kami pun menanyakan siapakah nama putri mereka yang pertama itu.

“Namanya, Adinda Salwa Nurhatami Jufri ..”

Wow, alangkah indahnya nama itu, pikir saya. Nama belakang tentu yang dimaksud adalah nama si ayah. Adinda dan Salwa juga bukan nama yang aneh, terbilang banyak sudah orang menamai anaknya dengan nama seperti itu. Bagaimana dengan Nurhatami? Suami saya berpendapat seharusnya penulisannya “nurkhatami” karena ia ingat dengan kata “khatam”. Namun sang kerabat mengatakan “Engga kok, Nurhatami ..”

Ketika kami menanyakan apa artinya, dengan wajah tetap datar ia menjawab,

“Nur itu ‘cahaya’, nah kalo ‘Hatami’ singkatan dari “Hasil-Cinta-Kami”

Jika saja lengan suami tidak menyodok siku saya, mungkin tawa saya sudah meledak.

Ow .. ow .. indahnya menamai anak dengan sepenuh hati. (*senyum*)

Tapi itu belum selesai, karena si kerabat kemudian mengungkapkan bahwa sebelumnya mereka ingin menamai si anak “BUCHERI” namun karena takut sama dengan merek sepatu, akhirnya nama itupun urung mereka berikan. Loh, memangnya kalo Bucheri artinya apa?

“Kalo itu sih .. singkatan dari “Buah-Cinta-Heri-dan-Popi”

Huahahahahaha.

Bertahun-tahun kemudian, baru sesiangan ini saya menceritakan kisah ini pada murid-murid saya yang selalu setia menanti ‘dongeng-sebelum-bobo-di-sela-pelajaran’. Saya katakan bahwa mau-tidak-mau, kita sebagai orang Indonesia memang senang sekali dengan yang namanya akronim atau singkatan.

Contoh peristiwa di atas adalah yang paling sering terjadi. Orangtua, karena satu dan lain hal memutuskan menamai anak mereka dengan memadukan nama mereka berdua, atau memadukan peristiwa tertentu yang dianggap penting pada saat kelahiran si anak.

Seorang rekan saya di sekolah dianugerahi nama “Nurma Gerhanawati”. Tentu saja dari namanya kita tahu bahwa ia tidak lahir di musim kemarau, melainkan pada saat peristiwa bersejarah, yaitu gerhana (entah gerhana bulan atau matahari).

Teman saya yang lain, diberi nama Gini Gustiniwati. Dari namanya kita tahu bahwa ia pasti berasal dari etnis Sunda (yang sangat suka sekali mengulang kata). Sehingga seandainya orangtua saya konsisten dengan ke-sunda-an mereka, nama saya seharusnya adalah Irma Surirma, begitu. Nah, Gini dinamai begitu karena ayahnya berprofesi sebagai Ginekolog; atau dokter kandungan, hingga beliau menyematkan ke-profesian-nya itu ke nama sang anak. Sementara dua orang kakak Gini; diberikan nama Dera (desember-akhir) dan Demi Luna (karena lahir pas bulan sabit). Unik sekali bukan?

Di masyarakat Minang (yang konon merupakan etnis yang paling suka dengan singkatan), banyak ditemui nama anak ELIS. Ini juga singkatan, dari Engkau-Lahir-Ibu-Selamat. Sungguh merupakan kebanggaan dan kebahagiaan yang terasa dari sini, melambangkan cinta sejati seorang ibu.

Seorang teman kuliah saya, orangtuanya memiliki tiga orang anak. Anak pertama (yang merupakan teman saya tersebut) mereka berikan nama “Firstiany”, karena ia merupakan anak pertama. Sang nomor dua memperoleh nama “Deuxianto” (deux berasal dari bahasa Prancis, yang artinya ‘dua’), dan si bungsu bernama “Triana”.  Dulu saya sempat juga dapat ilham untuk menamai anak-anak saya dengan urutan seperti itu. Atau dengan urutan abjad seperti yang dilakukan salah seorang guru SMA saya. Guru SMA saya (Pak Agus) mempunyai 7 orang anak (kalau tidak salah) dan menamainya sesuai dengan alphabet; Abdi, Bakti, Cinta, Dian … dan seterusnya. Namun entah kenapa ilham luar biasa itu tak pernah benar-benar saya wujudkan.

Seorang teman di SD (dan SMP), bernama Perdamaian Sitompul. Mungkin orangtuanya berharap bahwa Ucok (panggilanku padanya) akan menjadi anak yang akan selalu membawa kedamaian pada sesamanya. Dan Alhamdulillah memang Ucok anak yang baik, pintar dan sabar. Terbukti kan memberi nama itu juga berarti memberikan doa.

Ada juga orangtua yang memberikan nama dengan menyematkan tanggal lahir si anak. Seorang rekan guru di sekolah memiliki nama “Dwi Eko Windu“ karena ia lahir pada tanggal 21 Agustus (Dwi=dua; Eko=dua; Windu=(bulan ke-)8). Alhamdulillah kami selalu ingat kapan Pak Eko ulangtahun karena namanya itu.

Nina adalah murid saya di sebuah tempat kursus dulu. Ia pernah bercerita mengapa ia diberikan nama seperti itu. Nina berarti “ditungguan-ku-nini-na” artinya ketika Nina lahir, sang nenek-lah yang rajin menunggui ibunya yang mau melahirkan. Luar biasa kan, padahal saya pikir Nina nama yang sangat umum, tapi ternyata di tangan orangtua yang penuh cinta; nama itu menjadi luar biasa.

Dan berbeda dengan orang dari belahan dunia Barat, yang cenderung seperti yang ‘asal’ saja memberikan nama  misalnya’ John lagi, atau Jack lagi atau Stephanie lagi. Orang Indonesia (kebanyakan) sangat senang memberikan nama yang sudah mereka pikirkan dan mereka rancang dengan indah. Di masyarakat Sunda malah ada budaya “ngabubur beureum-bubur bodas” yang dilakukan setelah si anak mendapat nama yang baik. Adakala ketika si anak sering menderita sakit berkepanjangan atau kenakalannya sudah kelewatan, orangtua serta merta mengganti nama anak mereka dengan nama lain karena takut ‘namanya terlalu berat’ dan melalui nama yang baru, mereka berharap si anak akan jadi lebih baik lagi.

Juga berbeda dengan orang Arab (misalnya) yang hanya memperoleh sebuah nama depan diikuti oleh “bin” atau ‘binti” saja; orang Indonesia (termasuk saya) cenderung senang memberikan nama yang panjang, biasanya lebih dari dua kata kepada anaknya. Sehingga sering saya temui orang-orang yang memiliki nama panjang sekali hingga saya harus berpikir bagaimana namanya akan muat di STTB atau di lembar jawaban UN yang bulatannya mungkin tidak sepanjang itu.

Anyway, ketika Shakespeare mengatakan “What’s in the name?” saya pikir Shakespeare keburu dipanggil Yang Maha Kuasa sebelum sempat datang ke Indonesia, karena tidak seperti Obama yang mengatakan “Pulang kampung niih ..” maka mungkin Mbah Shakespeare akan berkata “A name means everything ..”

Maka berilah nama yang baik bagi anak-anak kita, dan berperilakulah baik sesuai dengan nama yang diberikan orangtua kepada kita.

Wallahu’alam.

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Hello world!

Welcome to WordPress.com. After you read this, you should delete and write your own post, with a new title above. Or hit Add New on the left (of the admin dashboard) to start a fresh post.

Here are some suggestions for your first post.

  1. You can find new ideas for what to blog about by reading the Daily Post.
  2. Add PressThis to your browser. It creates a new blog post for you about any interesting  page you read on the web.
  3. Make some changes to this page, and then hit preview on the right. You can alway preview any post or edit you before you share it to the world.
Posted in Uncategorized | 1 Comment