Disconnect … while you still can …

Jarang sekali sebenarnya saya menonton film yang ujung-ujungnya membuat sesak nafas. Disconnect (2012) adalah salah satunya. Disajikan dengan agak murung (dan semakin murung) dari awal hingga akhir, membuat saya agak sakit kepala karena jalan cerita yang terjalin dengan natural namun sedih.

Film dibuka dengan adegan seorang pemuda belia yang tiba-tiba masuk ke sebuah rumah, di dalamnya banyak sekali muda mudi (hampir) tak berpakaian. Tadinya saya pikir itu rumah bordil, namun ternyata si pemuda berprofesi sebagai penyedia jasa layanan sex video call (aduuh apa atuh yaa istilahnya) pokoknya dia tergabung dalam website yang isinya memang menyediakan jasa sex (tanpa melakukan penetrasi >_<) mulai dari memerlihatkan anggota tubuh, menari, hingga (maaf) bermasturbasi.

Baru 10 menit saja saya sudah harus menarik nafas beberapa kali.

Di tempat lainnya, saya diajak menemui sepasang suami istri. Mereka tidak bahagia. Jelas-jelas tidak bahagia. Sang suami menyibukkan diri dengan pekerjaannya dan sesekali bermain judi di internet. Sang istri berkarya lewat seni dan sibuk berchatting ria dengan teman virtualnya, karena tak pernah bisa ngobrol dengan suaminya sendiri. Apa yang terjadi? Kematian putra mereka yang masih bayi lah yang menyebabkan semuanya.

Kemudian, film ini pun bercerita mengenai dua remaja putra. Yang pertama hidup berdua dengan ayahnya yang mantan polisi dan merasa ayahnya terlalu otoriter, ia merindukan mendiang ibunya. Remaja kedua putra seorang pengacara sukses yang memiliki semuanya, rumah mewah lengkap dengan kolam renang, mobil mentereng. Namun sang remaja mengurung diri di kamar, ditemani musik metal kesukaannya, selalu memakai hoodie dan topi kupluk di sekolah, karena ia amat sangat tidak pede. Ayahnya, si pengacara top itu, tak lebih dari seseorang yang mampir setiap malam untuk ikut bersantap di meja makan.

Semua kisah ini dengan latar belakang yang berlainan, diperkenalkan satu demi satu, untuk kemudian diperjalinkan dengan rapi dan (lagi-lagi) kelam. Alur yang agak lambat dan kisah hidup dramatis manusia memaksa penonton untuk tidak membuat judgement. Tidak ada yang benar atau salah. Yang ada hanyalah kehidupan saja.

Hanya di film ini, rasanya, saya melihat Jason Bateman tidak cengar-cengir seperti biasanya di genre rom-com. Berperan sebagai pengacara kaya yang akhirnya menyesal telah menelantarkan keluarga, aktingnya sukses bikin saya depresi. Max Thieriot si “pelacur” remaja juga mencuri perhatian dari awal. Tak pernah menyangka si anak kurus di The Pacifier dan kemudian bermain agak lumayan di The House at The End of The Street bisa bertransformasi menjadi aktor dewasa dengan prospek menjanjikan.

Over all, film ini memang tidak akan membuat Anda terhibur. Beware, mungkin Anda malah akan jadi depresi. Namun, Anda akan dibuat “ngeh” dengan realita. Betapa sesuatu yang tak pernah Anda bayangkan, ternyata ada, hidup dan menjelma di hadapan Anda. This is life. Face it.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

MARTHA

Beberapa hari yang lalu saya menonton sebuah film. Film yang saya tonton berjudul “Martha Marcy May Marlene”, ber-genre drama dengan alur agak lambat. Di sinopsis singkat yang saya temukan (ini biasa saya lakukan jika mau menonton film), disebutkan bahwa film ini menceritakan tentang tokoh utama yang terpaksa harus belajar untuk bersosialisasi kembali setelah mengalami sebuah trauma. Karena informasi semacam itu sangat “biasa” saja bagi saya, jadi saya anteng aja menonton film ini. Setelahnya? Sungguh saya gemetaran. Akan saya ceritakan mengapa.

Dikisahkan seorang gadis sebagai tokoh utama bernama Martha. Dengan alur lambat dan maju mundur, kita mesti agak jeli untuk bisa menangkap “the big picture” dari film ini. Adegan dibuka dengan kehidupan di sebuah rumah pertanian dan seorang gadis (yang adalah) Martha, melarikan diri dari rumah tersebut di pagi buta. Setelahnya, sambil menangis ia menelepon kakak perempuannya dari sebuah telepon umum, kakak perempuannya menjemput dan ia pun resmi tinggal menumpang di rumah kakaknya tersebut.

Apa yang terjadi? Martha ternyata seorang gadis muda yang telah meninggalkan rumah selama dua tahun tanpa kabar berita. Dengan kedua orangtua yang sudah tiada, hanya seorang kakak perempuan lah yang mengkhawatirkan dirinya. Selama dua tahun Martha tinggal bersama sekumpulan orang yang ia anggap “keluarga” yang telah menorehkan “sesuatu” kepada Martha. Menyebabkannya menjadi pribadi yang bebal, anti kemapanan dan sering membuat kakak perempuannya bingung.

Selama dua tahun Martha ternyata tergabung dalam sebuah kelompok tertentu. Saya ingin menyebutnya sekte, namun saya masih belum yakin mengenai definisi jelas dari kata “sekte”, maka saya memilih untuk menyebutnya kelompok saja. Kelompok ini terdiri dari sekitar dua lusin anak-anak muda, berusia antara 15 – 23 tahun, dipimpin oleh seorang pria paruh baya. Kelompok ini hidup memisahkan diri dari masyarakat di sebuah rumah pertanian besar di tengah hutan. Kegiatan sehari-hari mereka adalah bercocok tanam  dan saling menghibur diri dengan bernyanyi dan bermain gitar. Sepintas tampak seperti tak ada masalah apapun diantara mereka. Mereka riang gembira dan saling menyayangi satu sama lain.

Dari awal film mulai, perasaan saya sudah tidak enak mengenai nasib Martha. Benar saja, ternyata kelompok ini bukan kelompok biasa. Setiap ada anggota baru yang masuk dan berjenis kelamin perempuan, maka seseorang yang ditunjuk oleh kelompok itu akan membuatkan sejenis minuman sehingga si gadis baru jadi teler, untuk kemudian dipaksa berhubungan seksual dengan si pemimpin kelompok. Yang membuat muak, setelahnya si gadis baru (termasuk juga Martha) akan dicekoki dengan doktrin bahwa hubungan seksual yang terjadi merupakan “cleansing” atau pembersihan jiwa. Setelahnya, kelompok ini akan bebas berhubungan seksual antara satu dan yang lainnya, berpasangan maupun berkelompok, sendirian maupun beramai-ramai di dalam kamar. Jika kemudian lahir anak dari hasil hubungan tersebut, maka mereka semua akan bergantian menjaga dan mengasuhnya.

Memuakkan bukan? Tapi kegilaan belum cukup sampai situ. Kelompok ini juga sering menyelinap ke rumah-rumah besar dan mencuri barang berharga di dalamnya. Juga, ketika kekurangan uang maka si pemimpin kelompok takkan sungkan-sungkan untuk meminta salah satu anggota kelompok untuk menelepon ayahnya yang kaya raya dan meminta uang.

Saya gemetaran menonton film ini karena fakta menjijikkan yang dipaparkan di sini. Ini bukan cerita bualan karena saya sering membaca berita mengenai berbagai sekte di berbagai belahan dunia yang rata-rata seperti yang digambarkan film ini. Anak-anak muda yang kebingungan dengan identitas diri dicekoki dan mengalami “cuci otak” dengan dijejali doktrin-doktrin tertentu yang bagi manusia yang menjunjung tinggi logika takkan mungkin bisa dikatakan normal. Betapa kasihannya anak-anak muda seperti Martha (yang di kelompok itu dipanggil dengan nama “Marcy May”) terpaksa harus hidup ‘tak normal’ di bawah jargon anti kemapanan yang memandang dunia sudah sangat kapitalis sehingga mereka memilih untuk hidup berseberangan dengan norma masyarakat. Martha diajarkan bahwa manusia hanya “exist/ada” saja, berfungsi untuk saling menghargai dan menyayangi, tanpa bekerja, karena bekerja dianggap kegiatan yang pada akhirnya hanya berujung pada penghambaan terhadap uang. Lucunya, kelompok Martha ternyata juga masih butuh uang sehingga mereka “menghalalkan” mencuri di rumah-rumah orang. Kelompok ini mengajarkan saling menghargai sesama anggotanya, namun anehnya semua anggota perempuan dilarang makan kecuali setelah para anggota laki-laki sudah selesai makan dan kenyang. Benar-benar kontradiksi yang membuat mual.

Keberadaan kelompok-kelompok ini tidak saja terjadi di Amerika (yang sempat membuat geger masyarakat sana), namun juga di Indonesia, masyarakat kita sendiri. Amerika pernah dikejutkan dengan sekte “Keluarga Mason” yang seperti kelompoknya Martha, memisahkan diri dari masyarakat dan berujung pada aksi bunuh diri masal yang dilakukan beramai-ramai.

Banyak orang-orang yang ‘terseret’ arus isme tertentu, hingga tak lagi bisa hidup normal bermasyarakat seperti yang lainnya. Ideologi atau isme atau sekte ini tak hanya yang menganut anti kemapanan seperti kelompoknya Martha, namun juga  kelompok yang mengatasnamakan agama tertentu sebagai kedok, padahal mereka tak lebih dari kelompok sesat dan menyesatkan. Anda tentu tahu dan bisa menyebutkan tanpa saya kasih tahu kelompok-kelompok mana yang dimaksud.

Luka fisik akibat senjata tajam atau bahkan peluru tampak menyakitkan (setidaknya di film-film) namun luka psikologis macam yang dialami Martha tentu secara kasat mata tak nampak tapi jelas meninggalkan bekas, yang celakanya tidak mungkin bisa hilang dalam waktu singkat. Banyak terjadi kasus-kasus seperti ini ketika kemudian si korban tak lagi bisa ‘normal’ dalam hidupnya.

Saya menutup tulisan ini gantung, seperti ending filmnya yang juga gantung. Saya jadi banyak menarik nafas setelah menonton film ini.

Betapa menggiurkan, sekaligus membahayakan sesuatu yang disebut idealisme itu.

#koreksi saya jika salah.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

MI – 4 Ghost Protocol ; antara Kremlin dan Burj Kalifa

 

Film ke-empat petualangan agent Ethan Hunt ini menyuguhkan banyak adegan yang penuh ketegangan. Dari mulai awal penonton dipaksa untuk sering menahan nafas karena banyaknya adegan-adegan yang nearly-impossible-to-be-done. Dua tempat mengagumkan yang membuat saya terkagum-kagum adalah gedung Kremlin di Moskow dan Burj Khalifa, gedung tertinggi di dunia (katanya) yang ada di Dubai.

Kali ini Ethan Hunt and the gank harus melaksanakan misi yang benar-benar impossible. Difitnah karena dituduh meledakkan gedung Kremlin di Moskow, Pemerintah USA memutuskan untuk menjalankan Ghost protocol, yaitu menyangkal keberadaan Ethan dkk, juga organisasi yang menaungi mereka, IMF. Ini dikarenakan pasca meledaknya Kremlin, hubungan Amerika-Rusia yang asalnya memang ga-akrab-akrab-amat jadi ‘amat sangat dingin sekali’, hingga dikhawatirkan terjadinya perang diantara dua negara.

Pada adegan runtuhnya Kremlin, asli saya tercengang. Bagi saya, Kremlin adalah simbol Rusia. Namanya (meski belum pernah ke sana) sudah melekat kuat di ingatan sebagai markas KGB (hasil membaca novel-novel spionase).

The second amazing building is Burj Khalifa. Pelaksanaan misi di gedung yang diklaim sebagai gedung tertinggi di dunia ini luar biasa menegangkan. Banyak adegan-adegan yang membuat saya ingin berseru memeringatkan “hati-hati …!!” (lebay-dot-kom) hehehe.

Over all, film ini bagus. Meski dengan formula sama, menyelesaikan misi dengan peralatan super canggih (yah mau gimana lagi emang ceritanya dari dulu gitu), namun tetap berhasil membuat penonton puas. Plus, di film ke-empat ini banyak sekali adegan spontan yang membuat kita tersenyum. Akting para sidekicks juga tak mengecewakan. Paula Patton tampil amat sangat seksi dan memukau, plus berotot (beda sekali dengan terakhir saya lihat dia di Deja-vu), Simon Pegg yang sering membuat penonton tersenyum dan … tentu saja Jeremy Renner yang amat sangat mencuri perhatian. Tak lupa juga Josh Holloway (Sawyer dalam serial LOST) yang cukup menjadi pemanis di awal.

Rating : 8.3/10

 

 

 

 

Posted in Uncategorized | Leave a comment

THE WALKING DEAD : mimpi buruk saya >.<

The Walking Dead

the zombies are all around

 Baru-baru ini ada serial baru di Star Movies yang menarik perhatian saya. Judulnya “The Walking Dead”, dengan 90 % pemain tak begitu dikenal dan format sinetron. Namun serial ini lumayan menegangkan dan menarik, dan (terutama) menyangkut satu hal yang menghantui saya sejak kecil.

Entah kenapa dari kecil saya selalu membayangkan bahwa pada suatu hari dunia akan dikuasai oleh entah-apa-itu yang  pasti akan membuat saya ketakutan. Mungkin ini efek jangka panjang dari keseringan membaca dan menonton film horor.

Serial ini mengisahkan tentang seorang perwira polisi yang terluka dan menderita koma hingga harus dirawat di rumah sakit. Rick, sang polisi muda ini suatu hari terbangun linglung dan menemukan rumah sakit yang sudah compang-camping, kosong dan … hiyy banyak zombie-nya.

Terbayang tidak? Terbangun, barely in clothes, berjalan saja masih limbung namun Anda sudah melihat bercak darah dimana-mana. Mau ngapain? Cari orang ga ada, ruangan sudah carut marut … sedih deh pokoknya.

Maka, serial ini kemudian mengisahkan perjalanan Rick untuk mencari istri dan putranya, yang juga pada akhirnya bertemu dengan beberapa orang yang masih survive, karena ternyata selama ia koma, dunia telah diserang oleh semacam virus yang menyebabkan banyak orang saling membunuh dan menjadi zombie. Zombienya tentu berbahaya karena ia ingin selalu memakan manusia.

Hiyy … masih mimpi buruk.

Saya masih mengikuti jalannya cerita ini. Sekarang baru masuk season 2.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

BROTHERS – sisa-sisa ironi perang

Saya baru menonton ulang film Brothers (2009) yang dibintangi oleh Tobey McGuire, Natalie Portman dan Jake Gylenhall. Dengan genre drama, film ini (kalau tidak salah) banyak dipuji karena isu yang diusung dan akting para pemainnya yang bagus.

Film ini bercerita tentang keluarga Cahill yang bahagia. Sam Cahill (Tobey McGuire) adalah seorang marinir yang sering meninggalkan keluarganya dalam tugas, meski begitu ia bahagia dengan Grace (Natalie Portman) istrinya yang cantik dan kedua gadis ciliknya; Izzy dan Maggie. Hanya ada satu cacat dalam keluarga Cahill, yaitu adik Sam bernama Tommy (Jake Gylenhall) yang pemabuk dan baru saja keluar dari penjara akibat dosanya merampok bank.

Cerita mulai bergulir ketika Sam sedang ditugaskan di Afghanistan dan dinyatakan mati dalam sebuah misi. Grace yang awalnya sangat membenci Tommy karena kelakuannya yang urakan sedikit demi sedikit mulai menerima kehadiran adik iparnya itu yang dianggap sebagai pengganti Sam. Apalagi kedua anak gadisnya amat mengagumi Uncle Tommy. Hingga kita disuguhi adegan-adegan mengharukan dimana Grace sering termangu karena begitu merindukan suaminya, dan campur aduk hatinya karena kehadiran sang adik ipar yang memang punya pesona.

Nun jauh di Afghanistan, ternyata Sam Cahill tidak meninggal, melainkan dijadikan sandera oleh pihak pribumi. Meski banyak adegan agak lebay (pengucapan Allah dan Muhammad yang tidak pada tempatnya) namun kengerian yang dihadapi seorang sandera begitu terasa. Sam dan seorang bawahannya bernama Joe (hanya mereka berdua yang tersisa) disiksa berhari-hari dan ditutup dengan matinya Joe di tangan Sam karena desakan pistol si penyandera.

Singkat cerita, setelah berbulan-bulan disekap akhirnya terjadi pertempuran sehingga Sam dapat dibebaskan oleh tentara USA. Kembalilah ia ke rumah disambut oleh anak istrinya. Namun sayang, Sam yang pulang ternyata berbeda dengan Sam yang dulu pergi. Kengerian dan perasaan bersalah karena telah membunuh temannya sendiri ternyata telah berbekas sangat dalam bagi Sam. Ia jadi paranoid dan mudah marah. Anak-anaknya pun jadi benci padanya dan lebih memilih Paman Tommy yang mereka sayangi.

Film ini sangat menyentuh saya karena satire yang ada di dalamnya. Betapa banyak tentara Amerika yang ditugaskan dalam perang dan pulang dengan jiwa terganggu. Sedih sekali menyaksikan keluarga yang terkoyak karena kekejaman perang yang sebenarnya entah untuk kepentingan siapa.

Saya juga terkagum-kagum melihat aksi Tobey McGuire yang biasanya terkesan kekanak-kanakkan (mungkin karena terlalu lama jadi Spiderman). Di film ini Tobey benar-benar terlihat sebagai tentara sakit jiwa yang juga psikopat. Kabarnya untuk film ini ia sampai harus membuat tubuhnya sangat kurus, dan memang berhasil. Pada adegan ia kembali dari Afghanistan, Tobey terlihat begitu cungkringdan tidak stabil. Lucunya, karena dibikin sangat kurus, kok jadi mirip Elijah Wood, si Frodo Baggins. Jake Gylenhall juga tak kalah mantap jadi adik sembrono yang hobinya mabuk-mabukkan di pub; yang mungkin tidak terlalu sulit ia perankan, mengingat di Prince of Persia, peran Dastan juga gitu.

Quote yang saya ingat dalam film ini adalah;

Adegan ketika Tobey McGuire menodongkan senjata pada kepalanya sendiri, ia berkata pada Gylenhall,

Help me brother … I’m drowning …

Dan kalimat yang ia ucapkan, ketika Natalie Portman menjenguknya di RS Jiwa (adegan terakhir:

Who was that said only the dead have seen the end of war? I have seen the end of war. The question is; how do I go on living?”

Membuat saya jadi merenung.

Berdosa sekali pihak-pihak yang menyebabkan perang berlangsung hanya demi kepentingan minyak atau senjata, sementara begitu banyak orang yang dirugikan.

It’s higly recommended.

Salam.

Posted in Uncategorized | Leave a comment

BERMAIN DAN BERPIKIR NAKAL DENGAN BAHASA

Saya selalu bilang pada murid-murid bahwa bahasa adalah ilmu yang paling lengkap (ga boleh protes ya .. hehe) setidaknya bagi saya. Meski seringkali tidak dikategorikan sebagai sebuah ilmu ‘beneran’ namun melalui bahasa-lah semua hal, simbol, gerak atau apapun dapat diterjemahkan menjadi sesuatu yang dapat dimengerti.

Saya termasuk orang yang suka sekali memperhatikan setiap tulisan atau gambar atau simbol yang terdapat di jalan-jalan. Karena banyak yang unik, menarik, lucu dan membuat perjalanan menjadi tidak membosankan. Yang paling sering saya lihat (dan mungkin Anda juga) adalah SEDOT TINJA (yuck!), LES PRIVAT (biasanya nancep di pohon2), PIJAT TUNA NETRA, TAMBAL BAN TUBLES (padahal harusnya ‘tube-less’ karna jenis bannya yang tanpa ‘tube’/ban dalam).

Pada perjalanan terakhir ke luar kota, ada banyak truk yang lalar liwat dengan gambar perempuan aduhai biasanya dengan ukuran besar dan warna mencolok. Tulisannya? Tentu saja KUTUNGGU JANDAMU haha. Trus ada satu dengan gambar perempuan sedang dalam posisi ‘menantang’ dan tulisannya; MERINDUKAN BELAIANMU … mantaaaap !!

Mau ga mau saya jadi ingat sinetron lama BAJAJ BAJURI. Salah satu tokohnya ada yang berprofesi sebagai sopir truk yang cunihin pisan. Apa ada hubungan dengan gambar aduhai dan profesi sopir truk dan perempuan?? Entahlah, ada yang berminat meneliti? Ah, tapi mungkin saja para sopir truk ingin ada sedikit pemandangan, maklum kan mereka kerjanya rata2 malam dan melelahkan.

Kalau supir angkot beda lagi. Mereka biasanya mencantumkan nama (saya duga nama anaknya atau siapapun yang menjadi kesayangan) di belakang angkotnya. FAJAR PERDANA PUTRA, misalnya. Mungkin si emang sopir baru punya anak nih. Kalau benar, saya suka terharu membayangkan betapa dia susah payah ngejar setoran demi keluarga.

Eh, jadi ingat; kadang2 mereka suka mencantumkan kalimat THE ME IS THREE (demi istri maksudnya) 🙂

Nama-nama bis biasanya mengandung makna masa depan yang gilang gemilang. HARAPAN JAYA, BUDIMAN, DOA IBU, misalnya. Dan hanya bis2 pariwisata yang suka buricak burinong warna-warninya. Tapi ada juga bis yang namanya adalah singkatan misalnya JP (kalo ga salah Jusup Putra) atau NPM (Naikilah Perusahaan Minang). Yang terakhir itu rute Bandung- Padang, mencirikan orang2 Minang yang memang sangat suka dengan singkatan.

Akhir-akhir ini, karena persaingan antara motor matic dan manual banyak bermunculan tulisan-tulisan lucu yang biasanya ditempel di bemper belakang.

HARI GINI PAKE MATIC? SEKALIAN AJA PAKE LIPSTICK

LEBIH BAIK OVER GIGI DARIPADA OVER KREDIT (yg ini pasti balasan dr pengguna motor manual)

adalah beberapa diantaranya.

dan kalau ada tulisan;

WASIT GO***G, di bemper motornya maka dipastikan ia pendukung BOLA, karena konon para supporter senang sekali mencaci wasit

atau;

VIKING MAH BULAO, BONEK MAH HEJO, LAMUN THE JACK NU GELO .. (sy baca tulisan ini dr salah satu kaos anak Viking)

Hahahaha. Saya mah seuri we.

Dan karena bahasa merupakan representasi makna, maka setiap tulisan pasti eh mungkin mencerminkan atau paling tidak memberikan bayangan mengenai si pembuat tulisan. Saya ngeri ah kalo pakai kata pasti, karena kan ga ada yang mutlak kecuali Allah ya? Yah, seperti halnya tampang; kalau cantik/cakep mah relatif, tapi kalau jelek mah mutlak. hehe

Selain itu, saya juga suka banget memperhatikan tulisan di baju orang. Apalagi yang namanya remaja, yang sangat suka banget membuat sensasi. Seperti tulisan BADJINGAN yang sering sekali saya lihat di kaos-kaos anak muda. Kemudian, nama band-band favorit mereka, biasanya kalo anak Metal atau Punk, saya ga terlalu ngerti, tapi nampak dari nama bandnya (sigana mah band) mah sereem.

Banyak remaja yang suka sekali mengenakan kaos bertuliskan caci maki dalam bahasa Inggris. Apakah itu FUCK YOU, MOTHER FUCKER atau apa gitu. Hingga suatu hari pernah kami bahas di depan anak-anak sekolah mengenai makna dari kata-kata makian dalam bahasa Inggris tersebut, karena kami tidak mau mereka mengenakan sesuatu hanya atas nama ‘gaya’ tapi sebenarnya memalukan.

Suatu kali pernah di Pusat Perbelanjaan Elektronik di Bandung, ketika mau servis hape bersama suami, kami terkaget-kaget melihat ada seorang gadis (cantik) mengenakan kaos ketat dan pas di dadanya ada tulisan:

FUCK ME ALL TIME

!!!!!!

Saya toel-toelan sama suami; kami bertanya-tanya apakah si eneng geulis nyadar tidak dengan arti dari tulisan di dadanya? Atau hanya sekedar sensasi saja? Nyesel juga waktu itu ga saya tanya langsung sama orangnya. Hehe kabayang …

Tapi banyak juga sih orang yang berpakaian dengan tulisan lucu-lucu seperti;

SUMPAH, SAYA PERNAH KURUS LOH, haha cerdas!!

LA PLUS BELLE DU MONDE – paling cantik sedunia (jenis penderita narsis mugholadoh)

selain bahasa tulisan, saya suka dengan simbol. Makanya dulu waktu kecil pernah bercita-cita jadi detektif seperti Sherlock Holmes atau Monsieur Hercule Poirot yang jago sekali mengartikan simbol. Sejauh ini sih baru beberapa simbol yang mampu saya artikan; mun gagaro berarti arateul, tanda “P” disilang berarti dilarang parkir, orang pake masker berarti lagi pilek,alergi debu atau ngagaya, orang berkaca mata hitam bisa berarti tuna netra (kalo ditambah tongkat) atau pengendara motor/mobil, sakit mata atau ngagaya (tanpa tongkat).

Orang berjilbab en pemakai kalung salib tak usah ditanya lagi agamanya apa. Orang bertato?? Waah macem2. Kalo dulu cuman preman, kalo sekarang sdh jadi trend.

Orang berkacamata? Hanya ada dua; kalo ga pinter berarti bolor. Hehe .. piss .. saya juga berkacamata kok.

Memakai baju hitam2? Berkabung, orang baduy atau strategi biar terlihat kurus.

Senang memakai peci? Bisa nasionalis, bisa agamis.

Senang pake baju minim? penderita exhibionisme, kurang bahan atau keharusan seragam (mungkin aja kan).

Para pemakai dasi? beragam; mulai dari eksekutif, guru (di sekolah saya begitu), salesman, sampe tukang obat (usum keneh teu nya?)

Yang suka mendecak-decakan lidah? Mungkin perokok yang sedang tidak ada rokok, yang lagi ngetrekcewek, memanggil tukang dagang atau ngefans berat sama si JOKER di film THE DARK KNIGHTS yang seneng banget berdecak2 itu … Why so serious?? (Ya ampun sampai sekarang saya penggemar berat filem itu)

Cerita saya masih banyak, tapi distop aja dulu. Kasihan Anda yang sudah lelah membaca tulisan panjang (yang kadang garing) ini. Nanti kita sambung lagi.

Saya tutup dengan sebuah tulisan yang sering saya lihat di pinggir jalan;

PRESS PORK

yang bikin bingung. Karna saya pikir PORK = babi, jadi babi mana yang akan di-tekan, dengan cara apa??

tapi suami menjelaskan bahwa mungkin tulisannya yang benar adalah PRESS FORK, artinya; nge-press garpu setang motor.

logis sih, karena di bawah tulisan itu ada banyak motor yang sedang diutak-atik.

seandainya di bawahnya banyak babi (yang sedang mengalami pelecehan dalam bentuk apapun), mungkin lain ceritanya.

*senyum*

Posted in Uncategorized | Leave a comment

Dari Filem, Plagiarisme Hingga Riset (Film-1)

Sambil mengerjakan tugas-tugas (kuliah, kerjaan dan sampingan) yang sepertinya ga ada habis-habisnya itu, di sebelah saya suami sedang menonton film berjudul CRACKS, dibintangi Eva Green salah satu pendamping James Bond. Filemnya sih bukan jenis box office saya pikir. Judulnya aja baru denger.

Anyway, kisahnya tentang sebuah sekolah khusus perempuan di Inggris (jadi inget serial asrama-nya Enid Blyton). Di sekolah Katolik ini ada seorang guru Diving yang amat disukai murid-muridnya, karena selain muda dan cerdas, ia sering sekali bercerita tentang dunia di luar sana. Maklum rata-rata gadis sederhana yang terkungkung tradisi jaman baheula (setting sekitar tahun 1970-an saya perkirakan), mereka terkagum-kagum dongeng-dongeng dari si guru geulis ini. Si guru memang mengesankan sebagai orang yang amat sangat gaul karena sering bepergian ke negara-negara lain.

Sampai akhirnya suatu hari sekolah kedatangan seorang murid baru. Berbeda dengan yang lain, ia anak orang kaya dan sering bepergian ke berbagai belahan dunia. Si murid baru inilah yang akhirnya membongkar ‘kedok’ si guru bahwa ternyata belum pernah mengunjungi satupun negara yang pernah ia ceritakan. Bahkan dongeng-dongeng yang ia sampaikan di kelas ternyata adalah penggalan-penggalan kata dari novel-novel. Pada akhirnya, si guru kehilangan muka di hadapan para murid yang awalnya mendewakan dirinya.

Ide ceritanya sih sederhana, tapi justru dengan kesederhanaan jadi mengena.

Saya pikir itu guru kurang kreatif. Coba kalo pas nyeritain dari novel teh pake kata-katanya sendiri? Pasti teu bakal pati kanyahoan.

Dalam dunia penulisan, mungkin itulah yang disebut salah satu tindakan plagiarisme. Suatu tindakan mencomot ide, teori maupun kata-kata dari orang lain dan mengatasnamakannya sebagai karya sendiri. Bahaya banget tuh, apalagi sekarang satu demi satu tindakan plagiarisme berhasil terkuak.

Karena saat ini setiap minggu saya dituntut untuk dapat menulis sebuah karya (ilmiah dan non-ilmiah) untuk dua maksud yang berbeda, setiap hari saya harus amat sangat berhati-hati membaca buku dan melakukan riset dan menuangkan gagasan tanpa melakukan apa yang saya sebutkan di atas. Dan harus diakui bahwa itu tidak gampang. Mengapa? karena terkadang saking banyaknya kita membaca sehingga seolah-olah kata-kata si penulis asli asa sudah jadi bagian dari diri kita. Therefore, ketika kita menuliskannya, kita kadang lupa bahwa itu bukan kata-kata kita.

Salah satu cara untuk menghindari hal tersebut adalah dengan melakukan teknik paraphrase. Parafrase atau menyadur adalah sebuah upaya untuk mengatakan sesuatu berdasarkan ide orang lain namun dengan memakai kata-kata sendiri. Contoh, ketika ada teori (misalnya)

“Perbedaan besar antara laki-laki dan perempuan dalam menggunakan otak mereka adalah; perempuan memenuhi otaknya dengan banyak sekali hal yang saling berkaitan, sementara laki-laki memakai ‘kotak-kotak’ untuk membedakan setiap pikiran mereka, dan masih memiliki sesuatu yang disebut empty box, dimana disitulah mereka tidak memikirkan apa-apa …”

Nah, jika ingin memakai teori tersebut, setidaknya ada dua hal yang bisa kita lakukan:
Pertama, kutiplah seluruh kalimatnya, cetak dengan huruf yang lebih kecil dan spasi lebih rapat (kadang ada yang juga pake tanda petik), kemudian cantumkan nama pengarang, tahun dan dari halaman berapa tulisan itu dikutip.
misalnya ” ….” (Irsyadi, 2010 :89)

Kedua, gunakan teknik parafrase (namun tetap pengarang disebutkan).
misalnya;
Ketika laki-laki mampu memisahkan pikiran satu dengan yang lain, dan juga mampu mengosongkan pikirannya; maka perempuan tetap tidak mampu membuatnya pikirannya sepi karena mereka cenderung lebih rajin memenuhi otak dengan berbagai pikiran yang saling berkaitan (Irsyadi, 2010:89)

Bagaimana kalau bahasa lisan? Ya disebutkan saja.
“Di buku primbon terlengkap tahun 2010, saya baca bahwa …”

Kembali ke cerita filem di atas, lagi-lagi saya ditubrukkan dengan sengaja ke dalam fakta bahwa; Ya, jika orang banyak membaca, pasti ia banyak bercerita. Mengapa? karena referensinya sudah banyak. Bukankah setiap kata yang kita keluarkan itu berdasarkan pengalaman dan pengetahuan kita??
Coba kalau anak saya (3,5 tahun) disuruh bercerita; pasti dia akan seperti ini,

“Di cekolah ade teh ada temen-temen … cama bu gulu. Temen-temen alus suka makan cayur …”

Mengapa ia bercerita demikian? Karena ia baru saja bersekolah di Playgroup, baru mengenal konsep ‘teman-teman dan bu guru’ serta buku favoritnya berjudul AKU SUKA MAKAN SAYUR.

Begitu pula dengan menulis. Orang yang pandai menulis pasti juga banyak membaca. Saya juga sering merasakan betapa dahsyatnya pengetahuan si penulis hanya dari tulisannya saja. Apalagi jika si penulis termasuk yang risetnya oke, waaah serasa ‘hidup’ sekali cerita yang ia sampaikan.

Para penulis luar termasuk yang saya kagumi karena mereka menulis full riset. Semua data yang ada meski dicampur dengan fiksi namun berdasar pada fakta. Sampai-sampai banyak terdengar para penulis yang sampai mengasingkan diri supaya bisa anteng mengerjakan riset untuk tulisannya.

Inilah yang sangat sering dilupakan oleh para penulis kita (termasuk saya sendiri sebagai penulis amatiran yang seringnya menulis hal-hal ga penting). Terkadang saya suka susah menangkap ‘feel’ dari sebuah tulisan karena mungkin ia mengawang-awang atau seringkali ga pas dengan kenyataan. Contohnya, jika mau setting cerita di Bandung dan tokohnya orang Sunda, ya dibuatlah seperti adanya, jangan sampai berasa jadi orang Sunda jajadian yang baru datang ke Bandung setelah lama transmigrasi di Kalimantan.

Yah, demikianlah sodara-sodara; saya juga mengerti bahwa menulis itu tidak gampang. Dalam bahasa Inggris aja kata “text” (sebagai materi tulisan) jika ditelusuri maknanya ia berarti “to weave” yang artinya menenun. Hakikatnya, menulis memang seperti menenun, yaitu menjalinkan rangkaian kata-kata sehingga ia menjadi satu kesatuan yang utuh dan indah dipandang .. dibaca maksudnya mah.

Hayu atuh mulai sekarang mah belajar lebih keras lagi baik sebagai pendongeng, pembaca maupun penulis.

*Tulisan ini dibuat atas unsur kesengajaan, namun jika ada kemiripan dengan kisah nyata, Insya Allah itu cuma kebetulan. Interpretasi apapun diperbolehkan namun semua efek samping bukan tanggungjawab saya*

Posted in Uncategorized | Leave a comment